Selasa, 04 Juni 2013

Stand up Comedy Sudah Berakar Lama di Budaya Indonesia

Akhir-akhir ini, stand up comedy begitu populer di jagad hiburan Indonesia. Secara umum, makan lesikal stand up comedy adalah lawakan atau komedi yang dilakukan di atas panggung oleh seseorang dengan melontarkan serangkaian lelucon berdurasi 10 sampai 45 menit.

Koordinator Tertawa Sebentar Gagah Raditya menjelaskan, stand up comedy dikenal sejak abad 18 di Eropa dan Amerika Serikat. Pelaku komedian di sana disebut dengan stand up comic atau comic. Para comic ini biasanya memberikan cerita humor, lelucon pendek, atau kritik berupa sindiran dengan berbagai gaya dan gerakan dengan menggunakan alat peraga. Untuk mempermudah mereka dalam berkomedi, biasanya mereka tak lupa membuat catatan kecil.

“Karena sebuah materi dibuat lelucon, maka tak mengherankan bila leluconnya berbau cabul, rasis, dan vulgar. Stand up comedy waktu itu biasanya dilakukan di kafe, bar, universitas,dan teater,” kata Gagah, Senin(18/6).

Beberapa artis luar negeri yang memulai karirnya dalam dunia stand up comedy diantaranya Jerry Seinfield, Chirs Rock, Daniel Tosh, Woody Allen, dan Rowan Atkinson. Seniman yang terakhir disebut dikenal di Indonesia dengan perannya sebagai Mr.Bean dengan film berjudul sama.

Sementara itu, bila menelisik sejarah stand up comedy di Indonesia, sebenarnya sudah ada sejak dulu kala. Nama-nama seperti Taufik Savalas, Butet Kertaradjasa, dan Ramon P. Tommybend. Dan dari perkembangan terakhir muncul nama baru seperti Raditya Dika, Asep Suadji, Panji Pragiwaksono, serta Sam Darma Putra.

“Dulu stand up comedy kurang mendapat respon di Indonesia karena masyarakat cenderung lebih suka physical comedy. Namun sekarang, justru menjadi alternatif hiburan di Indonesia,” katanya.

Ia melanjutkan, sebenarnya stand up comedy di Indonesia sudah menjadi tradisi tersendiri. Hanya saja dikemas dengan cara yang berbeda. Dagelan Mataram, pertunjukan ketoprak, kesenian ludruk, dan wayang inilah tradisi dari stand up comedy tersebut.

Ia memberi contoh, dalam wayang, ketika punakawan muncul, ki dalang selalu menampilkan sisi komedi. Atau saat kesenian ludruk, dalam sesi jula-juli, pelawak tunggal bermonolog sambil menyelipkan bahan-bahan lucu.

Dalam pertunjukan ketoprak, lanjutnya, pada segmen dagelan, seorang pelawak biasanya membuka komunikasi beberapa saat dengan penonton dan disusul interaksi dengan pelawak atau pemain lain. Atau dalam Dagelan Mataram, sebelum memulai acara seorang pelawak yang bermonolog akan melontarkan leluconnya sekitar lima sampai sepuluh menit.

“Kita tidak tahu apakah hiburan stand up comedy ini akan bertahan lama di hati pemirsanya, di tengah ketatnya persaingan. Semoga saja, stand up comedy di Indonesia makin bisa meningkatkan kualitasnya,” ungkapnya.

Penggiat Seni Yogyakarta Setyo Wibawanto pun mengaku bila stand up comedy menjadi hiburan yang sedang tren di masyarakat. Bahkan di Yogyakarta hiburan ini diperlombakan dalam Festival Kesenian Yogyakarta pada 20 Juni 2012.

“Hiburan ini menarik karena merangsang ide kreatif para komedian. Kami berharap dengan mengompetisikan stand up comedy di masyarakat, bisa memunculkan bibit–bibit baru komedian,” ujar Setyo. (Olivia Lewi Pramesti/National Geographic Indonesia)

Referensi : http://suc.metrotvnews.com/article/ensiklopedia/15

0 komentar:

Posting Komentar