Selasa, 27 November 2012

Bahaya Tidur Setelah Makan


SEBAGIAN besar orang merasa mengantuk setelah makan. Karena itu, tak sedikit yang memilih untuk tidur. Namun, tahukah Anda bahwa langsung tidur setelah makan dapat membahayakan kesehatan?

Rasa kantuk yang datang setelah makan sebenarnya kondisi yang wajar. Kantuk datang disebabkan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh dari makanan yang kita konsumsi. Anggap saja kita pada siang hari mengonsumsi nasi. Nasi mengandung glukosa yang dapat menghambat kerja sel-sel neuron. Akibatnya kita jadi cenderung bermalas-malasan, mengantuk, dan ingin tidur.

Menurut sebuah penelitian di Inggris, glukosa dapat menghentikan sinyal-sinyal aktif ke otak. Misalnya perintah agar mata tetap terjaga. Glukosa ternyata mampu menutup neuron-neuron penghasil protein mikro yang menjaga kesadaran tubuh manusia. Kadar glukosa dalam jumlah banyak di dalam tubuh bisa menyebabkan rasa kantuk yang hebat.

Namun, sebaiknya rasa kantuk ini tidak diikuti dengan tidur. Sebab, menurut dr. Hilda Fitri, tidur setelah makan dapat mengakibatkan tubuh tidak akan mampu mencerna makanan dengan sempurna. Akibatnya zat-zat gizi juga tidak dapat terserap tubuh dengan baik. Fungsi makanan sebagai penghasil energi juga tidak mampu terlaksana.

Hilda yang juga merupakan ketua tim verifikator STR dokter umum ini menambahkan, kebiasaan tidur sesudah makan dalam jangka panjang dapat mengakibatkan terjadinya penumpukan lemak yang tidak proporsional. Kebiasaan ini juga diyakini memperberat kerja alat pencernaan kita sehingga menjadi salah satu penyebab tidur tidak nyenyak.

Bila Anda ingin tidur nyenyak di malam hari, maka sebaiknya jangan langsung tidur usai makan malam, ujarnya.

Waktu tidur ideal setelah makan biasanya tergantung jenis makanan yang dikonsumsi. Jika makanan ringan tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk mencernanya. Namun sebaliknya, makan malam atau makan siang dengan porsi besar idealnya membutuhkan waktu dua jam.

Selain waktu dan kebiasaan yang memengaruhi seseorang untuk tidur setelah makan, pola makan dan kandungan zat gizi makanan juga dapat berpengaruh, terangnya.

Secara medis, bahaya ini dapat dijelaskan. Seperti yang dikutip dariDetikHealth.com, bahaya ini terjadi karena sistem pencernaan, terutama lambung, masih belum selesai mengerjakan tugasnya.

Kondisi ini disebut dengan refluks esofagus, yaitu kembalinya makanan dari lambung ke dalam esofagus (saluran yang mengangkut makanan dari mulut ke perut). Bila kondisi ini terjadi, maka makanan yang baru saja mencapai lambung akan berbalik arah menuju kerongkongan. Selain itu, tentu saja ada asam lambung yang terbawa oleh makanan tersebut.

Akibatnya, kerongkongan akan terasa kering, panas, kadang membuat orang merasa mual, mulas, dan ingin muntah karena ada makanan yang berbalik arah. Hal ini akan semakin parah bila orang tersebut sudah menderita penyakit maag atau tukak lambung.

Begitu juga waktu kita melakukan puasa. Pada saat makan sahur, karena rasa kantuk yang sangat berat, setelah menyantap makanan biasanya rasa ingin tidur lagi tidak tertahankan, dan kita pun kembali tidur. Waktu kita bangun, tentunya perut kita rasanya seperti sebah (kembung). Hal ini disebabkan makanan yang kita makan saat sahur naik kembali atau berbalik arah. Bukan rasa kenyang yang kita dapat, malahan rasa mual dan perut terasa tidak nyaman. Hal itu diperparah dengan naiknya asam lambung dalam perut.

Sebaiknya beri jeda waktu beberapa jam setelah makan malam sebelum beranjak ke tempat tidur. Selain itu hindari mengonsumsi kafein, gula, cokelat, dan alkohol terlalu banyak sebelum tidur.

0 komentar:

Posting Komentar